Sunday, November 15, 2015

-

Salam hangat penuh cinta,
Untukmu yang selalu iba kepada putrimu meskipun rasa kecewa berubah menjadi sebuah amarah
Untukmu yang tahu segalanya tentang putrimu meskipun setiap hari hanya beberapa jam saja bertemu
Untukmu yang selalu mengingatkan ibu untuk menanyakan kabar putrimu karena kau tau putrimu kecewa terhadapmu
Untukmu yang diam-diam membela putrimu walaupun dia berada di posisi yang salah
Untukmu yang selalu bertahan menjadi berlian yang bersinar dalam kubangan lumpur yang hitam, demi memberikan inspirasi kepada anak-anakmu
Untukmu yang menjadi "BOS" dalam keluarga tetapi diam-diam menyikat sepatu putrimu
Untukmu yang tidak habis-habisnya memberikan kasih sayang meskipun putrimu selalu memandangmu sebelah mata
Dan untukmu yang diam-diam menangis setelah melihat putrimu menangis karenamu

Meskipun pertama kali aku memanggilmu ayah ketika usia 6 tahun, tetapi kau tetap Ayahku. Mungkin banyak hal yang masih belum bisa aku terima, tetapi aku sudah menyiapkan hati yang besar untuk bisa menampung aliran kekecewaan. Terimakasih telah menjagaku, Mama dan juga adik-adikku :)

Peluk Cium
Darmarita P


Read More

Saturday, September 26, 2015

Udah Lelah, Pengen Nikah?

Perkuliahan sudah memasuki minggu ke 4!

Cukup lelah dengan segudang tugas anak kuliah. Survei lapangan, bikin paper, terus di presentasikan. Hidupku nggak jauh-jauh dari itu. 22 sks tugasnya udah segudang, mungkin kalo 24 sks tugasnya udah seballroom kali ya (oke, nggak penting!)
Yang jelas aku banyak tugas, aku mulai jarang nulis di blog dan aku mulai lelah dengan kuliah. Kalimat klasik yang selalu muncul ketika pernytaan itu di buat. "Udah, nikah aja!" atau "Aku pengen nikah aja!" Entah apa yang terbersit di otak tapi ini kata yang menggambarkan kelelahan seorang mahasiswa. Dalam hati sih, nikah sama siapa? Jodoh aja belum nyamperin.
Intinya aku bukannya pengen nikah sih, tapi aku lelah sama kuliah. Bye~
Read More

Friday, September 11, 2015

Semester 3, Tahun Kedua

"Besok ekiv, aduh aku belum di Kalimantan nih. Tolong dong wakilin ekivalensiku."
Aku harus "Move On" dari ITS. Setelah 1 tahun mengikuti perkuliahan serta beberapa kegiatan kampus yang menguras tenaga akhirnya Institut Teknologi Kalimantan resmi di buka untuk Mahasiswa. Ya, aku berkuliah di sana, tanah Borneo yang kebanyakan orang memandang pendidikan kami kalah dengan kualitas yang ada di Jawa. 
Rasanya tidak cukup bekal satu tahun yang aku bawa di ITS karena aku mempunyai misi yang cukup besar bersama 200an mahasiswa lama ITK yang lain untuk mengembangkan ITK. Tanggung jawab serta beban moral sangat dilimpahkan kepada kami agar menjadikan nama ITK besar. Publikasi merupakan hal yang sedang genjar kami lakukan. Mungkin tidk banyak yang bisa memenangkan perlombaan namun kami ingin, kami di pandang sama dengan Institut Teknologi lain yang ada di Indonesia karena kami mempunyai kesempatan yang sama seperti mereka. 
Jika ditanya seberapa besar aku merindukan ITS jelas sangat besar karena bobotnya bisa 20 sks. Namun gerakan harus cepat dilaksanakan. Dengan fasilitas yang cukup di kampus Borneo, kami siap menjadi prioner untuk ITK. Bukan hanya aku yang menggebu namun mereka dan dosenpun juga menggebu untuk membesarkan nama ITK.

Kami baru, bukan berarti kami lugu!

Peluk Cium
DarmaritaP
Read More

Friday, June 5, 2015

[SHORT STORY] Philophobia

“Sudah berapa hari kamu tidak menyapanya? Setauku kalian dulu akrab” tanya Brian kepadaku. “Siapa? Aku menyapa semua orang.” Jawabku polos. “Haruskah aku membeberkan semuanya?” jawabnya sedikit kesal. “Oh, dia. Kenapa memangnya? Aku tidak menyapanya karena suatu hal. Mungkin aku belum siap untuk membuka diri lagi.” Jawabku dengan suara sedikit rendah. “Aku tidak tau apa yang kamu rasakan. Tapi semua terserah padamu, aku hanya mengingatkan batas tidak menegur seorang muslim adalah 3 hari.” jawabnya menusuk hati. Aku hanya bisa bergumam dalam hati. Dia tidak merasakan apa yang aku rasakan. Walaupun aku merasa aku sangat kekanak-kanakan tapi memang aku tidak menyapanya karena suatu alasan. Aku menyukainya! Itu alasanku kenapa aku tidak menyapanya.
Aku memang tidak mempunyai hubungan khusus dengannya. Namun kami sudah terlibat percakapan di dalam pesan yang selalu berhenti ketika rasa kantuk mulai menghampiri. Aku memang menyukainya karena dia selalu memperlakukanku dengan baik. Mungkin rasa nyaman itu tercipta karena sedikit perhatiannya yang mungkin biasa baginya tapi tidak biasa bagiku. Beberapa kali kami menghabiskan waktu untuk bercengkrama entah sekedar ngobrol santai atau membantunya mengerjakan tugas. Hingga sampai suatu ketika ada hal yang membuatku menjadi sangat yakin jika ia juga mempunyai rasa yang sama. “Selvi, kita adain perjanjian yok. Siapapun yang lebih suka duluan, dia kalah.” dan beberapa minggu kemudian “Selvi, sepertinya aku akan kalah” entahlah aku hanya bisa menyimpulkan perkataannya sendirian. Satu hal yang mungkin aku tidak bisa lupa ketika aku dan dia pergi ke sebuah acara seni dan menurutku itu hal paling bodoh. Acara seni yang cukup melelahkan karena harus menunggu guest star yang sangat aku sukai hingga aku terlarut dalam tidur dan entah dimana kepalaku bersandar. Hanya ada dia disampingku. Mungkin aku bersandar di bahunya dan itu adalah hal bodoh yang aku lakukan. Kenapa aku harus mengantuk dan tertidur dalam acara itu.
Mungkin pria itu belum sepenuhnya mencuri hatiku, namun beberapa perhatianku sudah tercuri olehnya. Pria itu cukup tampan menurutku, walaupun sifatnya yang masih kekanak-kanakan tetapi ada suatu moment dimana dia bisa lebih dewasa dari pemikiranku. Mungkin dia bisa tumbuh menjadi pria yang bijaksana nantinya. Beberapa teman dekatnya selalu memberikan cap yang tidak bagus kepadanya namun dia sangat berbeda dihadapanku. Dia memperlakukanku sangat baik. Itulah faktor yang membuatku merasa nyaman.

Hari berganti, minggu bergulir dan bulanpun semakin membulat. Pesan pesan darinya hilang begitu saja. Dia menghilang begitu saja. Hingga akhirnya aku mendengar berita jika dia mempunyai seorang gadis. Mungkin ini yang dinamakan berpisah. Akupun mulai menjauhkan diri darinya. Jika ditanya tentang rasa sakit, mungkin hanya 30% karena aku belum jatuh cinta kepadanya. Namun benih yang sudah setinggi pohon cabai harus layu begitu saja. Sedih, marah, kecewa, cemburu tidak hinggap terlalu parah. Sejak saat itu, aku tidak menyapanya. Aku tidak ingin lagi terlibat percakapan dengannya. Bukan karena aku marah, tapi aku takut aku akan jatuh cinta dan itu sangat menyiksa. Aku hanya mempunyai rasa suka dan aku tidak akan melanjutkan untuk terjatuh kepadanya. Mungkin aku belum bisa membuka diri dan menyapanya seperti dulu, rasanya sangat susah untuk mengucapkan kata “Hai, Dani”. Hanya rasa canggung dan kecewa ketika bertemu dengannya. Mungkin aku hanya bisa menyukainya dari kejauhan, mencuri beberapa pandangan dengannya dan hanya bisa melihatnya tersenyum karena gadisnya.

----------END----------
Peluk Cium
DarmaritaP
Read More
Powered by Blogger.

recent posts

Followers