Thursday, June 22, 2017

Catatan Seekor Rusa : Pertemuan Baru

Serigala, aku mendengar lolonganmu malam ini, di dalam rumahmu yang cukup gelap untuk aku masuki. Perlahan tanpa ragu, aku telusuri lorong sunyi gelap ini. Seperti labirin yang tidak tahu dimana ujungnya. Sampai, aku menemukan cahaya di ujung sana. Bayanganmu nampak sangat dekat. Aku terus berjalan, namun kali ini sangat ragu. Sepertinya itu bukan kau, Serigala. Tinggimu tidak seperti biasanya, lehermu terlihat jenjang. Badanmu tidak sekecil biasanya dan ekormu cukup panjang untuk seekor serigala. Aku terus mencoba mendekat, lebih dekat, terus mendekat sampai hujan membuatku terbangun dari mimpiku sore ini.
Musim penghujan selalu mendatangkan guyuran hujan tiba-tiba. Diatas rumput yang hijau ini, aku terbaring cukup pulas sampai percikan air tiba-tiba menggangu mimpiku. Sore ini aku memimpikan serigala. Tapi aku tidak yakin itu dia, karena sudah sangat lama dia bermigrasi ke tempat lain yang lebih dingin. Sedari awal, kami berdua memang sangat berolak belakang. Aku lebih suka iklim hangat seperti disini. Banyak hal yang menyenangkan ketika matahari mulai bersinar, tetapi kadang hujan mengguyur seolah memberitahu jika sebetulnya aku terlalu suka untuk menutupi setiap senyum dibawah panas matahari.
Hujan semakin deras, aku memutuskan berteduh di bawah pohon akasia ini. Pohon yang dapat menjadi payung bagi banyak hewan di hutan hujan ini. Terakhir kali aku ke sini, aku sedang asyik terlibat pembicaraan bersama kuda coklat. Dia suka memakan murbai yang berada di sekitar pohon ini. Sama sepertiku, dia juga menyukai rumput segar serta buah murbai yang manis. “Rusa, apakah kamu perlu bantuan?” tiba-tiba terdengar suara seekor binatang. Akupun menoleh, seekor kuda coklat dengan leher jenjang, ekor panjang dan empat kaki kuat menopang badannya. “Oh, terimakasih. Aku ingin mengambil buah itu.”kataku sedikit malu. Aku baru saja bertemu dengan kuda ini setelah aku memutuskan untuk pindah ke hutan tropis ini. Tujuanku hanya untuk bisa memulai hidup baru dengan bertemu banyak hewan baru, dan menjauh dari bayangan serigala.  “Mari, sini aku saja yang ambil. Pohon ini makin tinggi dari hari ke hari.” Kuda itu memberikan tawaran dengan sopan. Sampai kami terlibat pembicaraan yang cukup panjang dan berakhir di depan rumah baruku. Sepanjang jalan, dia banyak bercerita tentang kehidupannya, tentang dimana saja tempat keberadaan rumput segar yang menjadi favorit hewan seperti kami, hingga mengenalkan teman-temannya yang tinggal di hutan ini. Angin berdesir, setiap daun pohon melambai seakan memberi tanda, dia bisa jadi teman baikmu di hutan ini, Rusa. Aku berharap, dia benar-benar bisa menjadi teman baikku karena kita punya banyak kesamaan. Mungkin tidak dengan fisik kita yang berbeda. Dia mempunyai leher yang jenjang, badan yang lebih besar dariku, dan ekor yang panjang. Tunggu! Lamunkupun terhenti seketika ketika aku menyadari ciri fisik dari kuda coklat itu. Aku langsung teringat dengan mimpi yang baru saja aku alami. Bayangan itu, apakah dia kuda coklat yang pernah terlibat pembicaraan panjang denganku di bawah pohon ini? Pikirku mulai menerka apakah bayangan itu memang si kuda? Lalu, kenapa harus ada kuda di dalam rumah serigala? Beberapa pertanyaan mulai merasuk ke dalam otakku bersama setiap guyuran hujan yang sampai saat ini belum berhenti. Ah, mungkin aku sedang terfikirkan sosok kuda sebelum aku tertidur. Tapi, untuk apa aku memikirkan dia? 

-to be continue-
Read More

Sunday, November 15, 2015

-

Salam hangat penuh cinta,
Untukmu yang selalu iba kepada putrimu meskipun rasa kecewa berubah menjadi sebuah amarah
Untukmu yang tahu segalanya tentang putrimu meskipun setiap hari hanya beberapa jam saja bertemu
Untukmu yang selalu mengingatkan ibu untuk menanyakan kabar putrimu karena kau tau putrimu kecewa terhadapmu
Untukmu yang diam-diam membela putrimu walaupun dia berada di posisi yang salah
Untukmu yang selalu bertahan menjadi berlian yang bersinar dalam kubangan lumpur yang hitam, demi memberikan inspirasi kepada anak-anakmu
Untukmu yang menjadi "BOS" dalam keluarga tetapi diam-diam menyikat sepatu putrimu
Untukmu yang tidak habis-habisnya memberikan kasih sayang meskipun putrimu selalu memandangmu sebelah mata
Dan untukmu yang diam-diam menangis setelah melihat putrimu menangis karenamu

Meskipun pertama kali aku memanggilmu ayah ketika usia 6 tahun, tetapi kau tetap Ayahku. Mungkin banyak hal yang masih belum bisa aku terima, tetapi aku sudah menyiapkan hati yang besar untuk bisa menampung aliran kekecewaan. Terimakasih telah menjagaku, Mama dan juga adik-adikku :)

Peluk Cium
Darmarita P


Read More

Saturday, September 26, 2015

Udah Lelah, Pengen Nikah?

Perkuliahan sudah memasuki minggu ke 4!

Cukup lelah dengan segudang tugas anak kuliah. Survei lapangan, bikin paper, terus di presentasikan. Hidupku nggak jauh-jauh dari itu. 22 sks tugasnya udah segudang, mungkin kalo 24 sks tugasnya udah seballroom kali ya (oke, nggak penting!)
Yang jelas aku banyak tugas, aku mulai jarang nulis di blog dan aku mulai lelah dengan kuliah. Kalimat klasik yang selalu muncul ketika pernytaan itu di buat. "Udah, nikah aja!" atau "Aku pengen nikah aja!" Entah apa yang terbersit di otak tapi ini kata yang menggambarkan kelelahan seorang mahasiswa. Dalam hati sih, nikah sama siapa? Jodoh aja belum nyamperin.
Intinya aku bukannya pengen nikah sih, tapi aku lelah sama kuliah. Bye~
Read More

Friday, September 11, 2015

Semester 3, Tahun Kedua

"Besok ekiv, aduh aku belum di Kalimantan nih. Tolong dong wakilin ekivalensiku."
Aku harus "Move On" dari ITS. Setelah 1 tahun mengikuti perkuliahan serta beberapa kegiatan kampus yang menguras tenaga akhirnya Institut Teknologi Kalimantan resmi di buka untuk Mahasiswa. Ya, aku berkuliah di sana, tanah Borneo yang kebanyakan orang memandang pendidikan kami kalah dengan kualitas yang ada di Jawa. 
Rasanya tidak cukup bekal satu tahun yang aku bawa di ITS karena aku mempunyai misi yang cukup besar bersama 200an mahasiswa lama ITK yang lain untuk mengembangkan ITK. Tanggung jawab serta beban moral sangat dilimpahkan kepada kami agar menjadikan nama ITK besar. Publikasi merupakan hal yang sedang genjar kami lakukan. Mungkin tidk banyak yang bisa memenangkan perlombaan namun kami ingin, kami di pandang sama dengan Institut Teknologi lain yang ada di Indonesia karena kami mempunyai kesempatan yang sama seperti mereka. 
Jika ditanya seberapa besar aku merindukan ITS jelas sangat besar karena bobotnya bisa 20 sks. Namun gerakan harus cepat dilaksanakan. Dengan fasilitas yang cukup di kampus Borneo, kami siap menjadi prioner untuk ITK. Bukan hanya aku yang menggebu namun mereka dan dosenpun juga menggebu untuk membesarkan nama ITK.

Kami baru, bukan berarti kami lugu!

Peluk Cium
DarmaritaP
Read More
Powered by Blogger.

recent posts

Followers